TEKNIK PENYUSUNAN BAHAN AJAR

(pengantar sederhana)

Oleh Zulkarnaini*)

1. Tujuan

Setelah mengikuti kegiatan ini, peserta diharapkan mampu dan berhasil:

(1)     mengungkapkan keberadaan bahan ajar dalam pembelajaran;

(2)     mengungkapkan pengertian dan jenis bahan ajar;

(3)     mengungkapkan prinsip dan teknik (langkah-langkah) penyusunan bahan ajar;

(4)     menyusun bahan ajar yang dapat dimanfaatkannya dalam pembelajaran di kelas.

2. Uraian Materi

2.1 Keberadaan Bahan Ajar dalam Pembelajaran

Bahan ajar memiliki posisi amat penting dalam pembelajaran. Posisinya adalah sebagai representasi (wakil) dari penjelasan guru di depan kelas. Keterangan-keterangan guru, uraian-uraian yang harus disampaikan guru, dan informasi yang harus disajikan guru dihimpun di dalam bahan ajar. Dengan demikian, guru akan dapat mengurangi kegiatannya menjelaskan pelajaran. Di kelas, guru akan memiliki banyak waktu untuk membimbing siswa dalam belajar atau membelajarkan siswa.

Pada sisi lain, bahan ajar berkedudukan sebagai alat atau sarana untuk mencapai standar kompetensi dan kompetensi dasar. Oleh karena itu, penyusunan bahan ajar hendaklah berpedoman kepada standar kompetensi (SK), kompetensi dasar (KD), dan standar komepetnsi lulusan (SKL). Bahan ajar yang disusun bukan mempedomani  SK, KD, dan SKL tentulah tidak akan memberikan banyak manfaat kepada peserta didik.

Bahan ajar juga merupakan wujud pelayanan satuan pendidikan terhadap peserta didik. Pelayanan individual dapat terjadi dengan bahan ajar. Peserta didik berhadapan dengan bahan yang terdokumentasi. Ia berurusan dengan informasi yang konsisten (taat asas). Peserta yang cepat belajar, akan dapat mengoptimalkan kemampuannya dengan mempelajari bahan ajar. Peserta didik yang lambat belajar, akan dapat mempelajari bahan ajarnya berulang-ulang. Dengan demikian, optimalisasi pelayanan belajar terhadap peserta didik dapat terjadi dengan bahan ajar.

Jadi, keberadaan bahan ajar sekurang-kurangnya menempati tiga posisi penting. Ketiga posisi itu adalah sebagai representasi sajian guru, sebagai sarana pencapaian standar kompetensi,  kompetensi dasar,  standar kompetensi lulusan, dan sebagai pengoptimalan pelayanan terhadap peserta didik.

2.2 Pengertian dan Jenis Bahan Ajar

Bahan ajar adalah materi yang harus dipelajari siswa sebagai sarana untuk mencapai standar kompetensi dan kompetensi dasar (Depdiknas, 2003). Materi pembelajaran (instructional materials) adalah pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang harus diajarkan oleh guru dan harus dipelajari oleh siswa untuk mencapai standar kompetensi dan kompetensi dasar. Ada beberapa jenis materi pelajaran. Jenis-jenis itu adalah fakta, konsep, prinsip, prosedur, dan sikap atau nilai.

Materi pembelajaran yang termasuk fakta misalnya nama-nama objek, peristiwa sejarah, lambang, nama tempat, nama orang, dan sebagainya. Materi pembelajaran yang termasuk konsep misalnya pengertian, definisi, ciri khusus, komponen, dan sebagainya. Materi pembelajaran yang temasuk prinsip umpamanya dalil, rumus, adigium, postulat, teorema, atau hubungan antarkonsep yang menggambarkan ”jika …, maka …”, seperti ”Jika logam dipanasi maka akan memuai”, dan sebagainya. Materi pembelajaran yang berupa prosedur adalah langkah-langkah secara sistematis atau berurutan dalam mengerjakan tugas. Termasuk ke dalamnya cara-cara yang digunakan untuk melakukan atau menghasilkan sesuatu. Sikap atau nilai merupakan materi pembelajaran afektif seperti kejujuran, kasih sayang, tolong-menolong, semangat, minat belajar, dan sebagainya.

2.3 Prinsip dan Prosedur Penyusunan Bahan Ajar

Ada tiga prinsip yang diperlukan dalam penyusunan bahan ajar. Ketiga prinsip itu adalah relevansi, konsitensi, dan kecukupan. Relevansi artinya keterkaitan atau berhubungan erat. Konsistensi maksudnya ketaatazasan atau keajegan – tetap. Kecukupan maksudnya secara kuantitatif materi tersebut memadai untuk dipelajari.

Prinsip relevansi atau keterkaitan atau berhubungan erat, maksudnya adalah materi pembelajaran hendaknya relevan dengan pencapaian standar kompetensi dan kompetensi dasar. Jika kemampuan yang diharapkan oleh menghafalkan fakta, materi yang disajikan adalah fakta. Kalau kompetensi dasar meminta kemampuan melakukan sesuatu, materi pelajarannya adalah prosedur atau cara melakukan sesuatu. Begitulah seterusnya.

Prinsip konsistensi adalah ketaatazasan dalam penyusunan bahan ajar. Misalnya kompetensi dasar meminta kemampuan siswa untuk menguasai tiga macam konsep, materi yang disajikan juga tiga macam. Umpamanya kemampuan yang diharapkan dikuasai siswa adalah menyusun paragraf deduktif, materinya sekurang-kurangnya pengertian paragraf deduktif, cara menyusun paragraf deduktif, dan cara merevisi paragraf deduktif. Artinya, apa yang diminta itulah yang diberikan.

Prinsip kecukupan, artinya materi yang disajikan hendaknya cukup memadai untuk mencapai kompetensi dasar. Materi tidak terlalu sedikit dan tidak terlalu banyak. Jika materi terlalu sedikit, kemungkinan siswa tidak akan dapat mencapai kompetensi dasar dengan memanfaatkan materi itu. Kalau materi terlalu banyak akan banyak menyita waktu untuk mempelajarinya.

Ada beberapa prosedur yang harus diikuti dalam penyusunan bahan ajar. Prosedur itu meliputi: (1) memahami  standar isi dan standar kompetensi lulusan, silabus, program semeter, dan rencana pelaksanaan pembelajaran; (2) mengidentifikasi jenis materi pembelajaran berdasarkan pemahaman terhadap poin (1); (3) melakuan pemetaan materi; (4) menetapkan bentuk penyajian; (5) menyusun struktur (kerangka) penyajian; (6) membaca  buku sumber; (7) mendraf (memburam) bahan ajar; (8) merevisi (menyunting) bahan ajar; (9) mengujicobakan bahan ajar; dan (10) merevisi dan menulis akhir (finalisasi).

Memahami  standar isi (Permen 22/2006) berarti memahmai standar kompetensi dan kompetensi dasar. Hal ini telah dilakukan guru ketika menyusun silabus, program semester, dan rencana pelaksanaan pembelajaran. Memahami standar kompetensi lulusan (Permen 23/2006) juga telah dilakukan ketika menyusun silabus. Walaupun demikian, ketika penyusunan bahan ajar dilakukan, dokumen-dokumen tersebut perlu perlu dihadirkan dan dibaca kembali. Hal itu akan membantu penyusun bahan ajar dalam mengaplikasikan prinsip relevansi, konsistensi, dan kecukupan. Selain itu, penyusunan bahan ajar akan terpandu ke arah yang jelas, sehingga bahan ajar yang dihasilkan benar-benar berfungsi.

Mengidentifikasi jenis materi dilakukan agar penyusun bahan ajar mengenal tepat jenis-jenis materi yang akan disajikan. Hasil identifikasi itu kemudian dipetakan dan  diorganisasikan sesuai dengan pendekatan yang dipilih (prosedural atau hierarkis). Pemetaan materi dilakukan berdasarkan SK, KD, dan SKL. Tentu saja di dalamnya terdapat indikator pencapaian yang telah dirumuskan pada saat menyusun silabus. Jika ketika menyusun silabus telah terpeta dengan baik, pemetaan tidak diperlukan lagi. Penyusun bahan ajar tinggal mempedomani yang ada pada silbus. Akan tetapi jika belum terpetakan dengan baik, perlu pemetaan ulang setelah penyusunan silabus.

Langkah berikutnya yaitu menetapkan bentuk penyajian. Bentuk penyajian dapat dipilih sesuai dengan kebutuhan. Bentuk-bentuk tersebut adalah seperti buku teks, modul, diktat, lembar informasi, atau bahan ajar sederhana. Masing-masing bentuk penyajian ini dapat dilihat dari berbagai sisi. Di antaranya dapat dilihat dari sisik kekompleksan struktur dan pekerjaannya. Bentuk buku teks tentu lebih kompleks dibandingkan dengan yang lain. Begitu pula halnya modul dengan yang lain. Yang paling kurang kompleksitasnya adalah bahan ajar sederhana. Sesuai dengan namanya ”sederhana”, tentu wujudnya juga sederhana.

Jika bentuk penyajian sudah ditetapkan, penyusun bahan ajar menyusun struktur atau kerangka penyajian. Kerangka-kerangka itu diisi dengan materi yang telah diatetapkan. Kegiatan ini sudah termasuk mendraf (membahasakan, membuat ilustrasi, gambar) bahan ajar. Draf itu kemudian direvisi. Hasil revisi diujicobakan, kemudian direvisi lagi, dan selanjutnya ditulis akhir (finalisasi). Selanjutnya, guru telah dapat menggunakan bahan ajar tersebut untuk membelajarkan siswanya.

3. Pertanyaan dan Tugas

3.1 Pertanyaan

(1)    Bagaimana keberadaan bahan ajar dalam pembelajaran? Jelaskanlah jawaban Anda secara ringkas!

(2)    Apa yang dimaksud dengan bahan ajar? Apa sajakah jenis-jenis bahan ajar itu? Jelaskanlah jawaban Anda secara ringkas!

(3)    Ungkapkanlah kembali prinsip-prinsip dan langkah-langkah penyusunan bahan ajar!

3.2 Tugas

Susunlah bahan ajar berdasarkan pemahaman Anda tentang standar kompetensi, kompetensi dasar, silabus, dan rencana pelaksanaan pembelajaran yang telah ada! Penyusunan bahan ajar agar dilakukan secara individu. Satu bahan ajar seharusnya untuk satu pertemuan.

Padang, Juni 2009

Bahan ajar atau materi ajar adalah bahan atau materi yang harus dipelajari siswa dalam satu keatuan waktu tertentu. Bahan ini dapat berupa konsep, teori, dan rumus-rumus keilmuan; cara, tatacara, dan langkah-langkah untuk mengerjakan sesuatu; dan norma-norma, kaidah-kaidah, atau nilai-nilai. Bahan ajar untuk pembelajaran koginitif (pengetahuan) akan berwujud teori-teori atau konsep-konsep keilmuan. Bahan ajar untuk pembelajaran psikomotorik (keterampilan) akan berwujud cara atau prosedur mengerjakan dan menyelesiakan sesuatu. Sedangkan bahan ajar untuk pembelajaran afektif (sikap) akan berwujud nilai-nilai atau norma-norma. Jadi, bahan ajar menyangkut dengan aspek yang harus dipelajari siswa dalam ranah koginitif, psikomotorik, dan afektif.

Keberadaan bahan ajar dalam pembelajaran sangatlah penting. Bahan ajar m

Share and Enjoy:
  • Print
  • Digg
  • StumbleUpon
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Yahoo! Buzz
  • Twitter
  • Google Bookmarks
  • PDF
  • Add to favorites
  • Live
  • MSN Reporter
  • Orkut
  • Plurk
  • RSS
  • Technorati

Tulisan Lainnya

26 Responses to “TEKNIK PENYUSUNAN BAHAN AJAR”

  1. kurang komplit pak !

  2. Bahan ajar ini memang kurang komplit, karena itu disebut pengantar sederhana

  3. thanks pa, Insya Allah bermanfaat infonya, karena kita mo coba bikin bahan ajar utk lokal (se gugus..)dgn memberdayakan kkg..informasi lainnya ditunggu pa..

  4. Yolah, Bu Lisna. Optimalkanlah kegiatan KKG di gugus. Upayakan setiap kegiatan ada produknya. Selamat bekerja.

  5. Pak, trima kasih untuk semuanya. Format analisis indikator yang Bapak berikan ketika lokakarya di tiku, li kembangkan di MGMP dengan sedikit penambahan kolom untuk indikator yang telah direvisi. Kawan-kawan sangat senang bekerja dan ndak sabar menunggu kedatangan Bapak di MGMP. Masih di Bandung, Pak? Jan lupo yo, Pak.tangal 15 Agustus kita ke Cacang, trm ksh Pak.

  6. Eli, saya benar-benar minta maaf. Saya sudah siapkan bahan untuk pertemuan kita 15 Agustus di Cacang. Akan tetapi, saya ada kegiatan dan Direktorat Bindiklat, Ditjen PMPTK pada hari yang sama. Kegiatan itu berlangsung lima hari, Jumat sampai dengan Selasa 14 – 18 Agustus 2009. Jika teman-teman masih menunggu, tentu kita cari jadwal lain. Insya-Allah saya akan cari waktu yang pas untuk kegiatan di tiga sekolah ini.

    Jika ada format yang dikembangkan, itu sangat bagus. Seyogianya teman-teman tidak hanya mengembangkan yang ada tetapi juga membuat yang baru. Misalnya untuk menyeleksi materi pembelajaran, kegiatan pembelajaran, penilaian, dan sebagainya. Format-format dan atau instrumen yang berkaitan dengan itu, perlu dikembangkan di MGMP. Dengan demikian eksistensi MGMP sebagai perkumpulan pendidik profesional akan terlihat. Pada saatnya, MGMP benar-benar menghasilkan sesuatu untuk peningkatan mutu pendidikan di satuan pendidikan. Begitulah, Li, ya.

  7. pak maksih banyak atas infonya. salam kenal dari saya mahasiswa UM

  8. tlng kerangkanya pak

  9. isinya bagus tapi tak pas dengan judu yang bilang teknik bahan ajarl.tak langsung pada intinya.tks

  10. isinya bagus tapi tak pas dengan judul yang bilang teknik bahan ajar.tak langsung pada intinya.tks

  11. Terima kasih, Anda mampir ke blog saya. Nanti akan saya upayakan setiap tulisan pas dengan judul.

  12. Terima kasih, Anda mampir ke blog saya dan membaca teknik penyusunan bahan ajar. Kerangkanya dapat dilihat pada contoh bahan ajar sederhana yang tersaji pada blog ini. Kerangka bahan ajar itu fleksibel, lentur, sesuai kebutuhan. Sepertinya belum ada yang baku. Bahan ajar sederhana yang saya sajikan, jika diamati Anda akan temukan kerangkanya di situ. Terima kasih

  13. Pak, bahan ajar yang ditampilka sudah ida pakai sebagai contoh dalam kegiatan pelatihan. Ida berharap ada contoh bahan ajar yang lain.Makasih. wasalam

  14. Yalah, silakan pakai selama beermanfaat. Contoh yang lain akan kita coba untuk menulisnya. Akan tetapi, akan lebih bermakna bermanfaat jika contoh yang lain ditulis oleh rekan-rekan dan blog ini siap untuk menampungnya. Makasi, Ida telah mampir ke blog saya.

  15. pak, tolong info tentang bahan pembelajaran cetak ya. thanks

  16. Bahan pembelajaran cetak yang dilegalisasi oleh pemerintah, dapat diunduh pada situs pusat perbukuan, yaitu bahan cetak buku sekolah elektronik (BSE)

  17. Ass. Pak, mohon diberikan contoh format buku ajar yang bisa mendapat bantuan dari DIKTI. terimakasih

  18. Walalaikum salam, Pak Junaidi. Tidak ada format buku ajar yang baku. Variasinya banyak. Hal itu ditentukan oleh kebutuhan dan ketentuan yang berlaku untuk suatu institusi. Jika ada bantuan dari Dikti dalam penulisan buku ajar, tentu institusi bersangkutan memiliki syarata dan kriteria tertentu pula. Saya belum memilikinya. Jadi, mohon maaf Pak Jun, saya belum dapat memenuhi permintaan Pak Jun. Terimakasih telah mampir di blog saya.

  19. Ass ww! Pk. boleh tanya di luar bahan ajar, yaitu tentang team teaching . bagaimana sesungguhanya pelaksanaan team teaching dalam proses belajar? Mohon penjelasan!

  20. Waalaikum salam wr wb. Tugas guru adalah memberikan pelayanan kepada peserta didik dalam pembelajaran. Oleh karena itu, guru dapat melayani peserta didik yang satu kelas itu lebih dari satu orang (dua, tiga, dst.) Pemberian layanan dalam satu kelas pada satu kesatuan waktu oleh beberapa orang guru disebut pengajaran bertim (team teaching). Caranya? Buat perencanaan (RPP) bersama, bagi tugas dengn jelas di dalam kelas (siapa mengerjakan apa dan mempertanggungjawabkan apa). Lakukan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, dan memotivasi (lihat: PP 19/2005 tentang SNP dan Permendiknas 41/2007 tentang Standar Proses). Itu, ya sekedar jawaban. Terima kasih, Ibu mampir di blog saya.

  21. Bahan ajar penting untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. Sudah tentu bahan ajar ditulis berdasarkan analisis kebutuhan (ADDIE). Bahan ajar yang sudah disusun guru tidak serta merta bisa dipakai, tetapi harus dilakukan validasi isi, media, dan desain sehingga bahan ajar tersebut benar-benar dapat digunakan. Dick And Carrey misalnya, menganjurkan uji coba satu-satu, uji coba kelompok kecil, dan uji coba kelompok besar. Uji coba ini dimaksudkan untuk memperoleh bahan ajar yang berdayaguna dan berhasil guna.

  22. Sangat setuju, Pak Is. Sekurang-kurangnya begitu secara akademik teoretis. Secara praktis, jika guru mau saja mengkonstruk dan meramu bahan ajar, itu merupakan kegiatan awal yang menarik.

  23. trim atas info2nya pak….sy merasa senang…krn bapak telah bergabung di Lesson study basscham 7. semenjak bapak bergabung, sy merasa banyak mendapat ilmu ttg pembelajaran. trims sekali lagi pak….

  24. Bu Iza, terimakasih kembali. Apa yang saya lakukan hanyalah setetes air di samudra dan sebutir pasir di pantai. Saya berupaya untuk tetap mengikuti lesson study di kelompok tujuh. Saya juga banyak belajar dari rekn-rekan sejawat guru. Belajar, belajar, dan belajar itulah tugas kita. Prof. Fuad Hassan pernah mengatakan, “tugas guru itu adalah belajar, bukan mengajar”. Kita terus belajar dari pembelajaran yang kita lakukan. Makasih, Bu jika tulisan-tuisan saya ada manfaatnta bagi sejawat guru.

  25. terimaksih atas jawabannya pak…. tp yg masih mengganjal di hati sy, sy mengajar tidak sesuai dg jurusan saya. jurusan sy biologi, tapi, krn guru fisika kurang,sy ditugaskan ngajar fisika. saya dulu pernah mendapat pelatihan “achievment motivation training” , disana dinyatakan bahwa kita haruslah mengajar sesui dg skill kt, krn kalau tdak,berarti kita telah membohongi siswa kita sendiri… jd bagaimana menurut bapak?

  26. Bu Iza, pendidikan biologi, mengajar fisika. Itu tidak masalah. Di SMP itu, menurut Permendiknas Nomor 22/2006 ttg Standar Isi, IPA itu adalah IPA terpadu. Di dalamnya ada bilogi, fisika, kimia, dan bumi anariksa. Tinggal sekarang Bu Iza mengikuti perkembangan IPA secara substansial dan metodologi pengajaran.

Leave a Reply

Features Stats Integration Plugin developed by YD