GURU MASA DEPAN

May 12, 2016 Category :Opini 0

Oleh Zulkarniani Diran

Menjadi guru masa depan tidaklah mudah. Sekurangnya itu yang terungkap dari Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Menegpan dan RP) Nomor 16/2009 tentang Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya. Pendidikan calon guru paling rendah S1 atau D4. Calon harus memiliki sertifikat  profesi yang dapat diambil melalui Pendidikan Profesi Guru (PPG) di perguruang tinggi yang terakreditasi.  Sang calon dengan persyaratan itu harus pula mengikuti tes untuk menjadi guru. Jika lulus tes, masih calon, belum guru sebenarnya. » Continue Reading

PRESTISE DALAM KURIKULUM

May 12, 2016 Category :Opini 0

Oleh Zulkarnaini Diran

Kurikulum bermuatan prestise. Menggunakan kurikulum baru di satuan pendidikan menjadi prestise di sekolah itu. Jika semua sekolah di suatu wilayah administratif pemerintahan menggunakan kurikulum baru, prestise pula bagi daerah itu, khususnya bagi Dinas Pendidikan. Perihal prestise di dalam kurikulum ini terjadi hampir pada setiap pergantian kurikulum. » Continue Reading

PERENCANAAN PENDDIDIKAN BERBASIS KEBUTUHAN

May 12, 2016 Category :Opini 0

Oleh Zulkarnaini Diran

(petaktisi dan pemerhati pendidikan)

Institusi pendidik menyusun perencanaan pendidikan. Perencanaan itu biasanya disusun setiap tahun. Adakalanya disusun untuk empat tahun. Lazimnya, perencanaan tahunan atau empat tahunan disusun berdasarkan evaluasi terhadap pelaksanaan sebelumnya. Hasil evaluasi itu akan mengiformasikah hal-hal yang telah dan belum memenuhi kebutuhan. Informasi itulah yang kemudian diolah, diproses, dan diformulasikan menjadi perencanaan baru. Dengan demikian, perencanaan pendidikan benar-benar berlandaskan kepada kebutuhan pendidikan. » Continue Reading

MENJADI GURU “KAFFAH”

May 12, 2016 Category :Opini 0

Oleh Zulkarnaini Diran

Menjadi guru kaffah berarti menjadi guru seutuhnya. Begitu seseorang memasuki gerbang profesi guru, dia istqomah di dalamnya. Segala dimensi kehidupannya ditumpahkan untuk profesi ini. Semua fasilitas yang dipunyainya disumbangkan untuk pekerjaan ini. Segenap kompetensinya dioptimalkan untuk menunjang profesi yang sampai kini masih lazim disebut “pahlawan tanpa tanda jasa”. Guru kaffah adalah guru yang totalitasnya hanya untuk menjadi pendidik, pengajar, dan pelatih (dikjartih). » Continue Reading

BUDI DAN KEBERADAAN PANGULU DI MINANGKABAU (pengantar sederhana)

November 6, 2015 Category :Opini 0

Oleh Zulkarnaini Diran

1. Pengantar

Nenek moyang Minangkabau membuat adat. Tujuannya untuk menata kehidupan masyarakatnya. Dengan adat masyarakat dapat mngatur kehidupannya. Adat memberikan aturan-aturan dan ketentuan-ketentuan dalam kehidupan individu dan kehidupan bermasyarakat. Adat ibarat rel kereta api. Di atas rel itulah roda-roda kehidupan menggelinding . Jika roda keluar dari rel, kecelakaan dapat terjadi, musibah datang menghantam kehidupan manusia. Dengan adat itu masyarakat Minangkabau mempertahankan segi-segi kehidupannya yang khas secara turun-temurun. » Continue Reading

PENGUNJUNG “TEKNIK MENYUSUN BAHAN AJAR”

November 4, 2015 Category :Berita 0

Blog saya “zulkarnainidiran.wordpress.com” dan “zulkarnaini.net” masih banyak pengunjungnya. Kedua blog ini memuat tulisan yang berhubungan dengan pendidikan. Isinya memang sesuai dengan bidang profesi saya sebagai pendidik. Semua tulisan yang ada di blog ini memperkatakan bidang pendidikan. Tulisan-tulisannya ada yang membahas langsung pendidikan di kelas dan ada yang membahas profesi guru, profesi pengawas, kiat-kiat pembelajaran, dan sebagainya. Tulisan-tulisan itulah yang dikunjungi oleh rekan-rekan pembaca. Asumsinya, tentu pengunjung blog ini adalah sejawat pendidik dan tenaga kependidikan yang profesinya sama dengan saya. » Continue Reading

REFLEKSI DIRI (cuplikan kisah masa silam)

October 30, 2015 Category :Opini 0

Oleh Zulkarnaini Diran

“Lihatlah wajah kita melalui kacamata orang lain. Penglihatan orang lain tentang diri kita akan jauh lebih objektif dibandingkan dengan penglihatan sendiri”, begitu ungkapan yang saya baca dalam sebuah buku. Sebagai pendidik, audiens saya yang paling banyak adalah peserta didik. Frekuensi pertemuan dengan mereka jauh lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok masyarakat lain. Melihat wajah seutuhnya dari kacamata peserta didik mungkin akan menemukan keobjektifan yang mendekati kebenaran. Lagi pula, hasil pandangan peserta didik tentang saya dapat dijadikan bahan perbaikan, peningkatan, dan pengembangan kualitas diri. Hal itulah yang pernah dan sering saya lakukan selama menjadi guru. » Continue Reading